Review Buku: Acatalepsy
Sebuah buku bertajuk Acatalepsy yang menyoal tentang sebuah hal bisa saja dipahami berbeda oleh masing-masing orang. Ada yang pro dan ada yang kontra saat menyikapinya. Dan ini sah-sah saja bahkan menyenangkan karena hidup manusia bakal lebih berwarna. Demikian juga jika sebuah isu diangkat menjadi tema dalam sebuah buku. Bisa jadi ada pembaca yang setuju adapula yang tak sepakat dengan itu.
Nah, Nonny Ranggana mengemas ketidaksepahaman dalam menyikapi sebuah kejadian dan mengemasnya dalam sebuah kumpulan cerita pendek khusus dewasa yang dinamai Acatalepsy!
Blurb
"Seharusnya kamu cerai, Tih,” kataku memecah keheningan di dalam mobil.
"Dia sudah minta maaf, Sa," ujar Ratih hampir berbisik karena menahan sakit.
"Gak cukupl Dia harus dijebloskan ke penjaral” kataku tegas.
"Anak-anak nanti sedih,” ujar Ratih sambil menyeka air mata yang turun dari sudut matanya.
"Anak-anak pasti ngerti, Tih, Mereka juga gak akan mau melihat ibunya seperti ini,” sahutku berusaha meyakinkannya, kemudian mendengus kesal pada perempuan lemah yang kini menunduk dan membisu
Atas nama cinta seorang istri, Ratih rela bertahan walau terus disakiti, Atas nama cinta pula sang suami terus menerus menyakiti, meninggalkan jejak luka. Cinta dalam drama kehidupan manusia.
Acatalepsy, sesuatu yang tidak bisa dipahami. Salah atau benar, tidak dapat disimpulkan secara pasti.
Drama kehidupan berumah tangga yang kerap diwarnai oleh kontradiksi, romantisme, dan komedi.
Pada akhirnya, untuk memahami Acatalepsy hanya tergantung dari sudut pandang, Sudut pandangku mungkln saja tidak sama dengan sudut pandangmu, tapi hanya perlu satu hati untuk memahami.
Data Buku
Editor : Edelweis Sofie
Cover : Kayone Studio & Raissa Niranggana
Penata Letak : Enda Mrd
Penyunting : Evin Tobing
ISBN : 978-623-91924-3-3
14x21 cm, 245 Halaman
Cetakan 1, November 2019
Penerbit:
Binsar Hiras
Cijujung, Sukaraja - Bogor, binsarhiras.publisher@gmail.com, 0821 8966 2529, www.binsarhiras.com
Harga: 77 ribu (dibeli langsung ke penulisnya: Nonny Ranggana)
Tentang Penulis
Nonny Ranggana, perempuan kutu buku yang suka menulis sejak kecil ini, terbiasa dengan catatan harian yang menuntut konsistensi dan hasrat mendalam, untuk menuliskan segala hal yang dialami, kesedihan dan kegembiraan yang menghampiri, kesunyian dan kehangatan yang digores dalam lembar-lembar bergaris.
Penulis mulai serius merajah sejak beberapa tahun belakangan ini. Kerap menguji cerita yang ditulisnya dalam berbagai kompetisi, baik yang dibuat oleh komunitas, penerbit, ataupun media online. Hasilnya, bukan hanya keberhasilan, kegagalan dan cercaan menjadi bagian dunia penulis yang kadang dengan tangisan, senyuman, dan seringkali dengan cacian kembali.
Sebagian besar tulisan Nonny dibuat di Bogor, tempat ia lahir dan tumbuh menjadi gadis, bertemu jodohnya dan memiliki empat putri yang manis dan menjadi sumber inspirasi bagi tulisannya. Bandung dan Denpasar adalah tempat lain yang mcwarnai kehidupan Nonny, selama empat puluh tahun ini. Tak heran bila romantisme, multikultural dan berbagai sudut pandang dapat dihadirkan penulis dalam kumpulan kisah di bukunya ini.
Sebelum buku Solo Acatalepsy ini terbit, sudah menjejak enam buku antologi: Mari Bicara, Bangga Menjadi Ibu, Jangan Ambil Suamiku, First Love Never Dies, Tuhan Telah Berbaik Hati, Living with Mr. Perfect, dan satu novel digital Maid in Buitenzorg. Selamat menunggu kisah-kisah Iainnya. Si Kutubuku ini dapat disapa melalui: Facebook dan lG @Nonny Ranggana
Review Buku
Review Buku
Apa yang saya suka dari sebuah kumpulan cerpen?
Ceritanya banyak, singkat, baru baca lalu kenal tokohnya ketemu konfliknya dan selesailah kisah! Gampang dicerna dan enggak butuh waktu lama buat membaca serta memaknainya.
Demikian juga Kumpulan Cerpen Khusus Dewasa berjudul Acatalepsy karya Nonny Ranggana ini.
Awalnya saya bingung dengan kata Acatalepsy yang dijadikan tajuknya. Ternyata dari hasil penelusuran di Wikipedia, Acatalepsy, dalam ilmu filsafat berarti ketidakmampuan memahami, atau ketidakmungkinan memahami sesuatu.
Hm, masih belum paham juga maksudnya, sampai baca di bagian blurb yang ada di cover belakang buku berwarna ungu itu. Acatalepsy, sesuatu yang tidak bisa dipahami. Salah atau benar tidak dapat disimpulkan secara pasti. Ohh...!
Lalu apa hubungannya dengan isi buku?
Ternyata maksudnya, semua kisah di kumcer ini merupakan sudut pandang dari si penulis tentang kejadian yang banyak ada di kehidupan kita. Yang bisa saja orang lain memahaminya dengan sudut padang yang berbeda. Jadi bukan berarti ada kata acatalepsy disebut berkali-kali atau diceritakan secara khusus di sini. Ya, pemilihan judul yang unik begini bisa membuat penasaran pembaca dan ini poin istimewa pertama bagi bukunya.
Nah, kumcer ini terdiri dari 26 kisah pendek yang seperti layaknya cerpen lain, masing-masing cerita berdiri sendiri dan tidak berkaitan sama sekali. Kesemua kisah bertema keseharian dan punya kebaruan sehingga pembaca merasakan "nyawa cerita" saat membacanya.
Tema yang diangkat diantaranya tentang down syndrome - sebuah cerita yang dilatarbelakangi kondisi putri Si Penulis, poligami yang penuh kontroversi, keserbasalahan menjadi perempuan, hubungan mertua, menantu, ipar dan beberapa tema sosial yang memang lagi viral. Dan, judul-judul cerpennya:
- Namaku Che
- Istri Kedua Ayahku
- Bohong Putih
- Orang Ketiga
- Jangan Panggil Aku Gendut
- Jejak Luka
- Mamah dan Bunda
- Menikahlah dengan Suamiku
- Sepenggal Rasa
- Ayah Durhaka
- Aku Bukan Pelakor
- Dilarang Stalking
- Maafkan Aku
- Mertuaku Sayang
- Bukan Rumah yang Kurindukan
- lbu Dilarang Sakit
- Menantu Idaman
- Tamu Tak Diinginkan
- Toko Emas Berjalan
- Musuh Bersama
- Iodoh Terbaik
- Posesif
- The Ipars
- Kawin Kontrak
- Yang Penting Nikah
- Dasar Pelacur
Nah, Nonny Ranggana mengemas kesemua cerpennya dalam bahasa sederhana yang mudah dicerna, apalagi isu yang diangkat dalam cerita pun yang biasa tampak mata dan nyata ada di sekeliling kita. Jadi waktu membaca kita pun akhirnya manggut-manggut sepaham dengannya atau malah mengerutkan dahi karena tak sesudut pandang dengan ini.
Tapi, meski ceritanya simple, ending-nya kadang di luar dugaan. Ini yang bikin saat selesai satu cerita pembaca akan merasa oh, ternyata beda dengan tebakan di awal. Enggak terduga akhir ceritanya!
Selain itu Nonny juga "berani" mengangkat isu terkini dalam versinya sendiri. Seperti cerita berjudul "Menikahlah dengan Suamiku".
Di mana diceritakan: seorang perempuan - istri kedua, yang meminta suaminya menikah lagi dan bahkan menyediakan calon istri ketiga - sahabatnya sendiri - bagi sang suami. Alasannya, karena sang suami yang hiperseks membuat dia (dan istri pertama) kewalahan sampai tidak berdaya. Sebuah tema yang bagi khalayak tentu penuh dengan pro dan kontra. Tapi, Nonny berhasil mengemasnya secara menarik dalam versinya sendiri dan membuat kisah menurut sudut pandangnya. Bukankah sebuah cerita tidak harus mengikuti apa yang disukai sebagian besar pembacanya?
Nah, Acatalepsy bisa menjadi bacaan ringan yang bisa kita baca di waktu luang. Dan seperti selayaknya kumcer, saat satu cerita selesai, kita tetiba mau itu atau ini, bisa kita tinggal dan lanjutkan membaca nanti, tanpa harus penasaran pengin lanjut baca bukunya sampai selesai.
Oh ya, cerita-cerita di Acatalepsy ini menghibur dan membuat kita jadi tahu beberapa hal baru. Sebuah hal yang bisa jadi tak pernah terpikirkan bisa begitu.
Acatalepsy layak dinikmati sembari ngeteh atau ngopi di tengah gerimis di Februari. Meski sedikit harapan saya yang tak kesampaian, karena Nonny Ranggana sejatinya punya banyak tulisan dengan beraneka tema di sosial medianya. Tapi, di buku ini ada beberapa yang seragam temanya bahkan ada tokoh yang sama namanya. Tapi tak apa, toh penulis menjanjikan dan mengharapkan saya dan pembaca lainnya untuk menunggu kisah-kisah lainnya.
Terima kasih Nonny Ranggana untuk beraneka cerita singkat yang sungguh memikat!💖
Baca juga:
Happy Reading
Dian Restu Agustina
Bentuknya cerpen pendek ya Mom diah? Wah aku suka nih baca yg begitu. Jadinya banyak cerita dan banyak alur cerita yg berbeda ya.
BalasHapusSepertinya bukunya juga menarik, apalagi sudut pandang itu bisa bikin masalah. Padahal belum tentu salah juga. Mgkn hanya perlu menyamakan frekuensi.
Thanks reviewnya ya.
cerpen itu cerita penek, Mbak
HapusKumcer itu kumpulan cerpen
Jadi ini satu buku ada 26 cerita pendek
wah saya berminat nih sama bukunya...
BalasHapussaya suka kumpulan cerpen, karena ya seperti yang mba dian bilang, bisa pause membaca kapan saja karena ceritanya ndak panjang-panjang.
dimana beli bukunya ni mba?
Langsung ke penulisnya, Mbak
HapusJapri FB atau IG nya yaa
Awalnya aku bingung acatalepsy itu apa? Bahkan nulis kata itu juga susah. Tenyata itu bahasal filsafat ya yang artinya ketidakmampuan dalam memahami ya. Judul yang unik ya mba Dian. Bikin yang lihat jadi kepo ama isinya. Penasaran kayaknya isinya bagus apalagi bisa ngajak kita memahami dari berbagai sudut pandang jadinya ya
BalasHapusIya, judulnya hanya menggambarkan cara penulis mengisahkan ceritanya, mbak:)
HapusDari dulu lebih suka baca kumpulan cerpen krn bisa disambi hehe menarik ya mvak topiknya juga drama keluarga ya, buat pelajaran nanti kalau menikah
BalasHapussama, soalnya kumcer itu ringan dibaca ya, bisa dicicil bacanya
Hapusiya ini drma keluarga
Acatalepcy..
BalasHapusKata baru lagi yang aku tau mba Dian. Ceritanya perempuan banget ya Mba..
Kadang ya gitu, perempuan gak bisa menentukan salah dan benar karena perempuan itu makhluk perasa. Jarang pake logika..
Iya semua isu tentang perempuan ini
HapusSaya tuh senang banget baca cerpen. Ceritanya padat, singkat, dan gak lama bikin penasarannya. Hihihi. Duh, kalo baca prolognya jadi ingat lagu Ruth Sahanaya yg judulnya 'Derita Kesayanganku' mba.
BalasHapusya ampun aku langsung nyari di youtube..dan ternyata tahu lagunya tapi gatau judulnya hahaha
HapusBetul, Mbak Dian. Segala sesuatu itu pasti ada pro dan kontranya. Apapun yang kita lakukan, walau baik, tetap saja ada yang tidak suka hehehe.
BalasHapusDan bagus ini temanya dikemas dalam berbagai cerita ya, Mbak Dian.
Iya, Mas, ditampilkan dalam berbagai versi ini
HapusAih jadi penasaran nih baca antalogi cerpen tentang perempuan dan permasalahanya.Dari judul - judulnya kayaknya banyak inspirasi dari kehidupan sehari - hari. Eh beli bukunya dimana yak
BalasHapusKe penulisnya langsung, Mbak
Hapus76 ribu
Menarik tema2nya. Aku biasanya ga terlalu sering baca cerpen dan LBH memilih novel. Tp kalo tema yg diangkat seperti ini, jd penasaran. Toh kalo dipikir2, bener sih, sudut pandang orang beda2. Kalo ada wanita yg rela dimadu, bahkan mencarikan pasangannya dengan rela, blm tentu buat dia itu suatu malapetaka. Tp yg mendengar/membaca, lgs main emosi aja :D. Kejadian yg paling sering kan... Kalo ke Gramedia, aku mau cari ah...
BalasHapusHahaha..iya karena ada jenis pria hipers*ks ini kan ya
HapusOhya, belinya ke penulisnya Mbak
terbit indie ini
Judulnya unik ya mbak dan bikin penasaran yang baru liat kaya aku. Soal sudut pandang ini emang unik pula unik pula menurutku, karena suatu kejadian buruk sekalipun bisa jadi ga buruk kalau sudut pandang di rubah atau menurut sudut pandang orang lain ya
BalasHapusIya, tergantung cara memandangnya ya
HapusOh ternyata itu toh maksud dari judulnya.... Cerpennya banyak juga ya mba, ada 26. dilihat dari judul-judulnya sepertinya menarik sih... Jadi pengen baca juga. Tapi, ngelirik tumpukan buku yang belum dibaca hehe next time lah
BalasHapusAyo cepet dikelarin..ini bisa dibaca Mbak Qoty nanti
HapusSaya suka baca kumcer. Ceritanya bermacam-macam dan cepat selesainya. Jadi ga berasa bosan membacanya.
BalasHapusSama, saya juga:)
HapusNo.11 nih yang lagi hangat diperbincangkan dimedia online,televisi,media cetak.
BalasHapusSepertinya kebanyakan dari pengalaman hidup yang ada disekitar ya, diangkat dan dirangkum menjadi sebuah cerpen.
Menggelitik bagi yang membaca,dan mungkin ada yang berbisik dalam hati bilang "ini aku banget"
lagi viral ya? :D
HapusSaya pernah sangat suka baca dan bikin cerpen, tapi masa itu sudah lewat. Sekarang lebih suka baca nonfiksi yang agak berat dan mengajak berpikir.
BalasHapusMungkinn karena usia, ya. Saat makin tua, pikiran makin praktis dan pragmatis.
Saya masih baca keduanya mbak..biar seimbang saja:)
Hapuswaw, keren
BalasHapussoal ini, aku sih sering banget debat dengan teman2
bukan berarti debat sih, tapi mauku berbagi sudut pandang
hidup tuh gak saklek A harus A, B harus B
biasanya kalau debat, aku lebih memilih kontra dari teman2
bukan benar2 kontra, aku cuma pengen ngajak teman2 untuk lebih selow dalam memandang sesuatu
yes..orang cenderung ngikut pendapat mayoritas orang, entah salah atau benar. Padahal kalau dilihat dari sudut paandang berbeda pasti ada makna lainnya
Hapusjadi penasaran nih sama ceritanya yang enggak biasa. Yang bikin penasaran nih pada akhirnya cerita didasarkan pada sudut pandang pembaca
BalasHapusyup,banyak yang kontra dengan kebanyakan yang dinggap orang
HapusKayanya bagus ya bukunyaaa.. seru . Enaknya baca cerpen adalah cerita ga banyak, ga bertele2 dan lgsg selesai. Dan enaknya baca kumpulan cerpen kita bs liat cerita dari masing2 orang.
BalasHapusBtw.. aku jg masih blm paham nih kata dr Atacalepsy. Agak baru aku denger nyaaa.. itu dari bahasa apa ya jd nya ?
Saya baru kenal dengan nama mbak Nony Ranggana, tapi tertarik sama tema-tema cerpennya. Sepertinya sangat cocok untuk para Ibu atau Wanita yang sedang menjejaki dinamika berkeluarga.
BalasHapusBaru tau aku ada istilah Acatalepsy ini. Emang bener sih ya Mak, kadang manusia punya banyak sudut pandang terhadap sesuatu.
BalasHapusIni bukunya menyajikan banyak sudut pandang pada tema berbeda berarti ya Mak? Judulnya unik, aku baru tau loh ada istilah ini
BalasHapus